Sabtu, 05 November 2011

PERUBAHAN

Kebahagiaan jiwa ada pada pakaian yang dikenakan
Dan menghimpun ilmu adalah menghilangkan kantuk
Bukankah termasuk rugi sepanjang malam berlalu tanpa manfaat???
Sementara umur terus berjalan
Bangunlah di waktu malam
Siapa tahu engkau akan mendapatkan petunjuk
Telah banyak malam yang kau habiskan untuk tidur
Sepanjang itulah umurmu sia-sia


Kutengok warung makanan di samping ponpesku, 6 tahun yang lalu sampai sekarang warung itupun tetap sama seperti dulu, tetap dalam catnya yang mulai kusam, pada tata letak fasilitas kerjanya berupa meja, piring-piring, gelas, kompor, wajan dalam jumlah yang sama, beruntai-untai minuman sachetan juga berupa-rupa merek sampoo deterjen dan sebagainya, yang semuanya terasa istiqomah dalam kondisi seperti dulu, tak ada keinginan untuk mengecat warna pink dindingnya, biar berkesan dan membuat betah tinggal di dalamnya, lebih eye catching bahasa penjajahnya, tak ada pula penambahan meja atau perluasan ruang agar bisa menerima konsumen dalam jumlah besar, atau penambahan gelas, piring kompor serta wajan agar konsumen segera bisa dilayani Sehingga total waktu idle atauwaktu tunggu bisa diminimalisir, agar kepuasan konsumen bisa tercapai yang ujung-ujungnya juga peningkatan profit(keuntungan) bagi pemilik warung tersebut.
Padahal jumlah santri semakin hari semakin besar, berarti pelanggannya juga bertambah, hal tersebut semakin membuatku keheranan, Ku tatap pemilik warung, ku bertanya dalam diri,, Ada apa denganmu??? Mungkinkah bila ku bertanya pada bintang-bintang??? Atau pada rumput yang bergoyang? (^_^) sok puitis,,,,
Oke biar lebih nyaman dan mudah dicerna, sebaiknya anda dalam membaca artikel ini dengan membunyikan lagu karya hemada hilal Muhammad nabina. Untuk pilihan lagu keduanya ialah karya haddad alwi yang lagunya berjudul Madinatul ilmi. Itu tuch yang salah satu syairnya ana madinatul ilm wal ali yul babuha fa man arodal madinah fal yaktiha mim babiha ( saya (rosulullah SAW) adalah kota ilmu dan ali adalah pintunya barang siapa yang menginginkan kota (ilmu) maka ambillah dari pintunya)
Setelah mencari-cari, Alhamdulillah kutemui jawabannya dalam sebuahh kitab, yang intinya seseorang atau masyarakat akan mengalami perubahan bila ada rasa ketidakpuasan, kekecewaan atas kondisi yang dialami(dissatisfaction), serta mereka punya tujuan punya visi (vision) untuk merubah keadaannya disertai metode-metode (first step) yang digunakan untuk merubah keadaan tersebut. Yang mana semuanya itu, berupa ketidakpuasan,tujuanserta metode harus lebih besar dan kuat dari cobaan yang akan menimpanya(resistance).
Pemilik warung itu tak akan merubah warungnya bila ia merasa sudah puas dengan apa yang ia dapat, tak kan ia berimprovisasi sampai ada rasa ketidakpuasan muncul dalam dirinya, muncul ketidakpuasan saja tak cukup untuk bermetamorfosis, perlu tujuan perlu metode yang specific, jelas, terukur, dapat dicapai serta tahan terhadap resiko yang akan ia hadapi. Barulah warung itu kan berubah.
Ngomong-oming kawan teorema perubahan yang tertulis di atas tadi ternyata ada rumusnya kawan (^_^) yaitu, [(Ds+V)xFs]>R, Dengan penjelasan sebagai berikut Ds = Dissatisfaction, V= Vision, dan R = Resistance. Mengenai penjelasan kenapa koq ada yang ditambah lalu dikurung kemudian dikalikan itu bisa kau tanyakan pada aktivis da'wah yang sholeh sholehah yang bertebaran di fakultas MIPA, atau tanyakan langsung pada Ust Asep Supriatna yang mana beliau lah yang mengajariku hal tersebut pada sebuah training di kota malang.
Agar lebih mudah memahami bukalah Al qur’an surat Ar ro’du ayat 11, buka pula terjemahannya, yang artinya sebagai berikut “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”
Allah tak kan mengubah kondisi kita menjadi lebih baik kalau kita sendiri tak berusaha merubahnya, Allah juga tak kan membuat kita lulus, tak kan menaikkan IP kita, tak kan menaikkan penghasilan kita, kalau kita sendiri tak semakin giat belajar, sering bermusyawarah dengan sobat kita, juga mencari penghasilan tambahan kita, sunnatullahnya seperti itu kawan…
Allah juga tak akan merubah umat islam menjadi umat yang terbaik, seperti pada masa lampau, kalau umat islam sendiri tak mau merubah keadaannya, tak mau kembali pada sistem Syari’ah yang bisa membuat mereka Berjaya, tak mau mendirikan suatu Negara, yang Negara itulah yang membuat mereka berdikari, yang menjadikan sumber daya alam mereka terlindungi, yang sanggup memberikan kemakmuran ketentraman bagi setiap warganya. Kata imam malik semoga allah merohmatinya “urusan umat islam ini tidak akan jaya, melainkan dengan KONSEPSI LAMA yang telah (pernah) membawanya dahulu kejenjang kejayaan.
Konsepsi lama yang dimaksud tentunya ialah syariah islam, sebab adakah system di dunia ini yang lebih baik dari syari’ah islam? Allah lah yang menciptakan kita, allah pula yang tahu apa yang terbaik untuk kita. Lebih dari itu menerapkan syari’ah islam adalah sebuah kewajiban bagi setiap muslim. Maka dari itu, yuk segera menerapkan syari’ah islam, adapun kalo masyarakat belum mau menerima, itu sebab mereka belum faham, sehingga perlu diberi pemahaman, masalah mereka menerima atau tidak itu urusan mereka, kewajiban muslim adalah berda’wah, menyampaikan, bisa jadi masyarakat menolak karena tecekoki acara tv yang liberal, yang jauh dari koridor syari’ah islam. Yang kalau kita lihat presenternya yang wanita, wes gak kerudungan, gak jilbaban, tabarruj pisan.
Itukah yang di sebut emansipasi wanita? Kesetaraan gender? Padahal secara tidak sadar ia telah dieksploitasi oleh perusahaannya, oleh para pemilik modal, mereka berpendapat bahwa dengan menjadikan seorang presenter adalah seorang wanita yang cantik serta semlohai, akan membuat orang yang melihat betah, dengan semakin banyaknya orang yang melihat acara tersebut, maka semakin banyak pula perusahaan-perusahaan menawarkan produknya dengan membuat iklan yang menarik hati pemirsa yang budiman. Tentunya, dengan kompensasi lamanya tayangan serta banyaknya ditayangkan, berbanding linear dengan besarnya ongkos yang diberikan oelh perusahaan kepada channel TV yang bersangkutan. Yang menjadikan pijakan utama mereka ialah dengan pengeluaran sekecil-kecilnya didapatkan hasil sebesar-besarnya, minimasi biaya maksimalkan keuntungan, lepas dari halal haramnya, lepas dari apakah yang dilakukan memanusiakan manusia, atau menindas manusia, dengan menganggap manusia adalah layaknya barang, layaknya materi, yang bisa diperjualbelikan.
Yahh mungkin baru nyadar kalo dirinya sudah tua, atau mungkin baru nyadar kalo nyawa sudah ditenggorokan, berarti sudah kasep namanya. Sekedar menjadi pengingat diantara kita, ada sebuah ayat yang patut untuk direnungkan, difahami dan dipelajari
“Sesungguhnya neraka jahanam itu (padanya) ada tempat pengintai , lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas, mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya, mereka tidak merasakan kesejukan didalamnya dan (tidak pula) mendapat minuman. Selain air yang mendidih dan nanah, sebagai pembalasan yang setimpal, Sesungguhnya mereka tidak takut kepada hisab, dan mereka mendustakan ayat-ayat kami dengan sesungguh-sungguhnya, dan segala sesuatu telah Kami catat dalam sebuah kitab, karena itu rasakanlah. Dan kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab, sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis remaja yang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman), Didalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta, sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak. (QS. An-Naba’ ayat 21-36).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar