Jumat, 27 Agustus 2010

fi'il (kata kerja)

Setelah belajar isim maka pembelajaran selanjutnya adalah tentang Fi’il, sebagai penyemangat belajar bahasa Arab ada suatu hadits daari Ibnu Abbas dengan riwayat Muslim, Rosulullah SAW bersabda:
اَحِبواالعرب لثلاث : لانّى عربيّ والقرأن عربيّ وكلام اهل الجنّة عربيّ
Membacanya : ahibbul ‘aroba listalatsin : lianni ‘arobiyyu walquranul ‘arobiyyu wa kalamu ahlil jannati ‘arobiyyu
Artinya : “CINTAILAH BAHASA ARAB KARENA TIGA HAL : saya (nabi muhammad SAW) adalah seorang bangsa Arab, Al-Qur’an berbahasa Arab dan percakapan penghuni surga menggunakan bahasa Arab.”

yuk kita mulai dengan pengertian fi’il :
الفعل هوكلمة دلت على حدوث عمل مقترن بزمان
Arinya : fi’il ialah kalimat yang menunjukkan terjadinya perbuatan yang disertai dengan keterangan waktu : semisal : تَكَلّمَ – يَتَكَلَّمُ - تَكَلُّمْ , maksudnya تَكَلّمَ berarti telah berbicara (fi’il mazhi, يَتَكَلَّمُ berarti sedang berbicara (fi’il mudlori’), kemudian تَكَلُّمْ berarti berbicaralah.(fi’il amr), contoh lainnya : دَخَلَ – يَدْخُلُ – اُدْخًلْ , artinya دَخَلَ artinya telah masuk (fi’il mazhi). Kemudian يَدْخُلُ artinya sedang memasuki (fi’il mudlori’), kemudian اُدْخًلْ berarti masuklah!(fi’il Amr), lebih baik kawan kalauu kalian membeli buku tamsyllati tasrifiyyah (tasyriffan) seharga sekitar 2500 rupiah sampai 5000 rupiah. Disitu nanti sudah terdapat banyak wazannya juga contoh kata yang mengikuti wazan tersebut.

Fi’il itu dibagi menjadi tiga macam yaitu : fi’il mazhi, fi’il mudlori’ dan fi’il amar, penjelasannya sebagai berikut:
1. Fi’il madhi (berarti kata kerja lampau, yaitu kata kerja yang menunjukkan terjadinya sesuatu pada masa lampau) misal : اَرْشَدَ (arsada) artinya sudah memberi petunjuk,
رَشَّحَ (rosysyaha) artinya sudah mencalonkan, طَالَبََ (tholaba) artinya sudah menuntut, jadi fi’il madhi menunjukkan suatu pekerjaan yang sudah dikerjakan, sedangkan mengenai pekerjaan yang sedang dikerjakan itu disebut fi’il mudlori’

2. Fi’il mudlori’ (berarti kata kerja sekarang/akan datang, maksudnya suatu kata kerja yang menunjukkan pekerjaan yang dilakukan pada saat ini juga masa yang akan datang, tanda-tanda fi’il mudlori’ ialah anaytu, alif nun ya’ dan ta’). Misal : يُرَافِقُ(yurofiqu) artinya sedang menemani, يَتُوْبُ(yatuubu) artinya sedang bertaubat, يَسْتَغْفِرُ (yastaghfiru) artinya sedang meminta ampun. Mengenai penjelasan lebih lanjut bagaimanakah fi’il mudlori’ tersebut akan dibahas selanjutnya, khatta nyantae ja,,,,,

3. Fi’il Amr ( berarti kata kerja perintah, yaitu menunjukkan suatu kata kerja yang digunakan untuk menyuruh/memerintah seseorang, misal : اِجْلِسْ(ijlis) artinya duduklah!, اُخْرُجْ(uhruj) artinya keluarlah!, اِقْرَأْ (iqro’) artinya bacalah!
Mengenai pembelajran lebih lanjut tentang jelasnya fi’il itu, ada pada bagian selanjutnya.
WALLAHU A’LAM BI ASH-SHOWAB

Minggu, 22 Agustus 2010

isim (kata benda)

Setelah belajar kalam mari kita belajar tentang apa itu Isim, serta tanda apa yang mudah untuk membedakan antara Isim dengan yang lainnya. Lebih mudah lagi kalau anda para penuntut ilmu mau mencari benda-benda yang ada disekitar anda, kemudian cari bahasa Arabnya, sehingga dengan begitu akan lebih mudah memahaminya.

الاسم هوكلمة دلت على انسان اوحيوان اوجماد, مثل : صالح, بيت, القلم, حكو مة, اسلوب, قرية , طالب
Isim ialah kata benda/kalimah yang menunjukkan makna manusia, hewan atau benda mati, misal, Sholih, rumah, pena, pemerintah, metode, desa, pelajar. contoh
Ciri-ciri yang mudah untuk membedakan Isim dengan yang lain ada pada syair berikut :
با لجر و التنوين و الندا وال و مسند للا سم تمييز حصل
Membacanya :”Bil jarri wattanwini wan nida wa al wa musnadin lil Ismi tamyizun hasol
Artinya “ dengan jar, tanwin, nida(panggilan), al dan musnad bagi Isim perbedaannya jelas (berbeda dengan harf dan fi’il)”
Dari nadhoman tersebut bisa difahami bahwa ciri-ciri Isim yang mudah untuk dibedakan dengan harf dan fi’il ada 5, yaitu :
1. Jarr: adalah sesuatu kata yang menjadi majrur karena adanya harf, atau karena kalimat tersebut merupakan susunan Idhofah., misal : (fil baiti) فى البيت kata baitun berubah menjadi baiti karena ada harf ((فى., sehingga baitun bisa disebut dengan Isim, pokoknya ketika ada kalimat/kata yang berharokat kasroh maka bisa disebut Isim.
2. Tanwin: harokat tanwin itu ada tiga macam, fathah tain, dhommah tain, kasroh tain, misal kata ذهب(dzahaba) bila dibaca dzahabun, dzahabin atau dzahaban maka ia disebut Isim, karena bertanwin.
3. Nida’ (panggilan), misalnya يا زيد (ya zaid) يا فا طمة,(ya fatimah) يا ايهاالناس (ya ayyuhan naas)
4. Alif Lam (ال) maksudnya tanda lain Isim ialah ketika setiap mufrod ada al nya maka ia adalah Isim. Misal : مدرسة + ال = المدرسة (madrosah + alif lam = almadrosatu, almadrosatu itulah Isim) نحو + ال = النحو (nahwu + Alif lam = Annahwu, An Nahwu itulah Isim),
ال + رجل= الرجل (rojul + Alif lam = Arrojulu itulah Isim)
5. Dengan disetai Musnad (isnad Ileh), yaitu isim yang menjadi mubtada’ atau fa’il, seperti
انا قمت (ana qumtu),زيد قائم (zaidun qoim), قام زيد (qoma zaidun) lafadzh (ana) انا , zaidun (زيد) adalah , mubtada’ (musnad ileh), dan lafadz قائم (qoimun) ialah khobar (musnad)

Hukum isim itu ada dua, yaitu mu’rob (berubah-berubah) dan mabni (tetap), nadhomannya/syairnya:
والاسم منه معرب ومبنى لشبه من الحروف مدنى
Membacanya: “wal ismu minhu mu’robu wa mabni lisyabbahin minal hurufi mudni
Artinya :”adapun Ism itu ada yang mu’rob dan ada yang mabni, (yang mabni ialah) karena dekat sekali menyerupai huruf”,
Penjelasan mengenai seperti apakah isim yang mabni dan mu’rob itu terdapat pada tullisannya tentang macam-macam Isim Ma’rifat. So sabarr dulu,,,

WALLAHU A’LAM BI ASH-SHOWAB

SHOLAT SUNNAH TAROWIH

Yuk belajar tentang sholat tarowih, sungguh seorang ‘alim itu lebih berat digoda syaiton daripada seribu ahli ibadah yang tidak berilmu
Sholat sunnah tarowih ialah sholat sunnah yang dilakukan pada malam hari bulan romadhon yang dilakukan secara sendiri ataupun berjama’ah. Dinamakan Tarowih karena bagi yang mengerjakannya merasakan rilek (istirahat), lantaran panjang mereka berdiri, tiap kali sesudah salam pada setiap dua roka’at.
Sholat tarowih disebut juga qiyamu romadhon dasar melaksanakan sholat tarowih sebagaimana dalam hadits nabbi, yang diriwayatkan oleh al-bukhori dan Muslim, dari Abu Huroiroh RA, dia Berkata: Sabda Rosulullah SAW:
من قام رمضان ايما ناواحتسابا غفرله ماتقدم من ذ نبه
Membacanya : man qoma romadhona imanan wahtisaban ghofiro lahu ma taqoddama min dzambihi
Artinya : “ Barangsiapa melakukan Qiyamu Romadhon dengan rasa iman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lewat”
Jumlah bilangan sholat tarawih ada yang delapan roka’at (8) roka’at dengan 3 roka’at witir, inilah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW, sedangkan yang 20 roka’at dengan 3 roka’at witir adalah mengikuti Kholifah Umar bin Khottob RA. Pelaksanaannya ialah tiap 2 roka’at sekali salam.
Menurut Siti Aisyah (istri Nabi SAW) bahwa beliau SAW. Tidak pernah sholat malam pada bulan romadhon lebih dari sebelas roka’at, sebagaimana hadits dibawah ini :
“Dari Aisyah katanya: Bahwa Nabi SAW tidak pernah menambah sholat sunnahnya pada suatu malam, baik dalam romadhon maupun lainnya lebih dari sebelas roka’at.”
Sementara itu, al-Baihaqi dan lainnya dengan isnad Shohih (2/496) meriwayatkan:
انهم كانوا يقومون على عهدعمربن الخطاب رضى الله عنه فى شهر رمضان بعشرين ركعة
Membacanya : annahum kaanu yaquumuuna ‘ala ‘ahdin ‘umarobnilkhottobi rodhiyallahu ‘anhu fi syahri romadhona bi’isyriina rok’atin
Artinya : “Bahwasannya kaum muslimin pada masa pemerintahan Umar bin khottob RA melakukan sholat pada bulan Romadhon 20 roka’at”
Tetapi, Imam Malik dalam Muwathto’nya (1/115) meriwayatkan:
كان الناس فى زمن عمريقو مون فى رمضان بثلا ث و عشرين ركعة
Membacanya : Kanan naasi fi zamani ‘umaro yaquumuuna fi romadhoona bitsalatsin wa ‘isyriina rok’atin
Artinya: “Pada masa pemerintahan Umar, kaum muslimin melakukan sholat di bulan romadhon 23 roka’at.
Oleh sebab itu, kedua riwayat ini dilakurkan oleh al-Baihaqi, bahwa yang tiga roka’at adalah sholat witir.
Dijelaskan rahasia 20 roka’at dalam kitab fathul Mu’in bahwa sholat sunnat rowatib mu’akkad yang diluar romadhon ada 10 roka’at, maka di bulan Romadhon bilangan itu dikalikan, sebab Romadlon adalah waktu kesempatan hati dan juga siap siaga.
Mengenai nanti anda memilih siapa, lebih baik anda paling meyakini (mantap) yang mana kemudian anda tanyakan kepada Ustadz/kyai yang menurut kalian bisa dipercaya, kalau nanti mantap yang 10 roka’at ya silahkan, kalau yang 20 roka’at juga silahkan.
Namun kalau saya sendiri memilih yang delapan roka’at, sesuai dengan apa yang dicontohkan Nabi SAW, karena memang Nabilah sebaik-baiknya tauladan, Laqod kana lakum fii rosulillahi uswatun hasanah.
WALLAHU A’LAM BI ASH-SHOWAB

Sabtu, 14 Agustus 2010

KALAMUNA LAFDZUN MUFIDUN KASTAQIM

Saya menulis ini dengan memohon kepada Allah SWT semoga tulisan terkait pelajaran bahasa Arab ini dan seterusnya bisa menjadi tulisan yang bermanfaat dan menjadi rujukan amal yang menemani saya kelak di sautu perjalanan yang sangat panjang setelah kefanaan dunia ini berlalu, Amiin.. sholawat serta salam senantiasa tersampaikan kepada NAbi Muhammad SAW , beserta keluarganya juga shohabatnya serta setiap umat islam yang senantiasa berjuang melanjutkan kehidupan Islam dan mengembalikan kejayaan Islam.
bacaan alfatihah saya khususkan kepada ulama' besar ahli nahwu syekh ibnu malik yang bukunya ALFIYYAH telah menjadi rujukan banyak orang dari zaman daulah abbasiyah di baghdad hingga saat zaman jahiliyah modern kini, dan mungkin sampai ketika khilafah tegak kembali nati, insya Allah biidznillah.
Belajar bahasa arab itu KEWAJIBAN bagi umat muslim kawan, sebagaimana telah kita ketahui, bahwa ajaran islam sumber pokoknya dari alqura'n dan al hadits, kedua sumber itu berbahsa arab. Maka oleh karena itu, berkewajiban pula mempelajari sampai mengerti dan menguasai bahsa arab dengan segala tata bahasanya. , sebagaimana kaedah ushul fikih, Mala yatimmul wajib illa bihi fahuwa wajibun. (Artinya: setiap perkara yang tidak sempurna mengerjakan sesuatu kewajiban kecuali dengan sesuatu hal, maka sesuatu hal itupun wajib pula) begitu juga dengan kondisi saat ni ketika tiadanya khilafah maka syari'ah yang ada tidak bisa diterapkan secara kaffah, maka Iqomatid daulah khilafah hukumnya WAJIB pula!!!
di dalam belajar bahasa Arab dalam kitab Alfiyah karya Syekh Muhammad bin A. Malik Al-Andalusy dimulai dari pengertian kalam, maka dari itu saya memulainya dari pengertian Kalam.
كلا منا لفظ مفيد كاستقم واسم وفعل ثم حرف ن الكلم
menbacanya : “Kalamuna lafzhun mufidun kastaqim wasmun wafi’lun tsumma harfunil kalim”.
Artinya : “Kalam menurut kita (ulama nahwiyyin/ulama ahli nahwu) adalah lafazh yang berfaedah (bisa dimengerti) seperti lafadz استقم (istaqim) dan isim, fi’il kemudian harf adalah Kalim.”
Dari pengertian itu jelas bahwa Kalam adalah suatu lafazh yang berfaedah, maksudnya berfaedah disini ialah bisa dimengerti oleh orang yang mendengarnya. Atau oleh orang yang diajak berbicara olehnya.
Contohnya seperti lafazh استقم (istaqim) tadi pasti orang yang diajak berbicara mengerti apa maksudnya, yaitu menyuruhnya bersikap lurus, atau yang berupa kata tanya seperti دورمن الان؟ (dauro man al aan?) artinya giliran siapa sekarang? Maka ini juga bisa disebut kalam karena orang yang diajak omong mengerti (lafazh yang berfaedah). Contoh lainnya ialah :ان جد و جد
(in jadda wa jadda) artinya jikalau bersungguh-sungguh maka berhasil. Ini jika disebut kalam, karena kalimat tersebut berfaedah atau bisa dimengerti.
Namun bila kata tersebut Cuma ان جد (jikalau bersungguh-sungguh) maka tidak bisa disebut kalam, karena orang yang diajak omong tidak bisa mengerti apa maksudnya. Dan itu juga tidak bisa disebut kalim karena tidak terdapat fi’il, harf juga isim.
Pengertian Kalim menurut nadhoman/syair dalam kitab alfiyah tersebut ialah terkumpulnya isim, fi’il dan harf. Ada juga yang mengatakan bahwa kalim ialah sesuatu kalimah yang tersusun dari 3 kata/lebih baik berfaedah atau tidak. Misalnya : ان قا م محمد (in qooma muhammadun) artinya jikalau muhammad berdiri, maka kalimah tersebut bisa disebut kalim karena terdiri dari 3 kata jjuga terdapat harf, fi’il juga isim. Perinciannya ان = harf, قا م= fi’il dan محمد = isim. Namun kalimah tersebut bukan kalam, karena tidak berfaedah.


  1. Kalimat yang termasuk Kalam tapi bukan kalim : استقم ,المدرسة كبير , انا فرحان (saya gembira)
  2. Kalimat yang termasuk kalim tapi bukan Kalam : ان قا م محمد, من قال اناعالم
  3. Kalimat yang termasuk Kalam dan kalim : ان جد و جد, دورمن الان؟, الان جاءدورى
  4. (sekarang giliran saya), لما ذ تتعلم اللغة العربية؟, من قال ان عا لم فهو جاهل
  5. Yang bukan kalam juga kalim : الباب,زوجة,لسان


Itulah sekilas tentang Kalam juga kalim, Bila terjadi kekurangan maka maafkan saya sekalian dibetulkan karena baru sampai disitu kemampuan saya, adapun segala kebenaran, maka kebenaran itu datangnya dari Allah dan kesalahan itu asalnya dari saya. Dan bolehkah saya bertanya : فهمتم؟ membacanya fahimtum, artinya sudah faham kalian???? ^_^
WALLAHU A’LAM BISSHOWAB

Kamis, 12 Agustus 2010

puasa (romadhon)

Alhamdulillah kawan para pencari ilmu akhirnya kita bisa juga bertemu kembali dengan Bulan Romadhon pada tahun ini, Syahru Romadhon Syahru Shiam. Maka sudahkah kita belajar bab puasa untuk hari esok??? Kalau belum maka bisa Tanya ustadz atau utadzah yang dipercaya orangnya di sekitarmu, atau bisa juga dengan membaca artikel ini tentang bab puasa. dan jikalau ada kesalahan mohon dibetulkan atau dikoreksi, karena sesungguhnya kebenaran itu datangnya dari ALLAH SWT sementara kesalahannya datangnya dari saya. Dan saya menulis ini berharap bisa menjadi teman sebagai amal yang kelak kan menemaniku di sebuah perjalanan sangat berat, panjang dan melelahkan setelah kefanaan di dunia ini berlalu, amiin……
Adapun hujjah yang mewajibkan umat islam berpuasa ialah surat Al-Baqoroh ayat 183 dan 185, sedangkan Al-Baqoroh ayat 184 berisi keringanan (rukhsoh) kepada orang-orang tertentu untuk tidak melaksanakan puasa romadhon,

Artinya :” Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,(183) (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (184) (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur (185)”

Sedangkan puasa sendiri berarti menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa dengan syarat-syarat yang akan diterangkan. Orang yang memiliki kewajiban berpuasa sesuai yang dijelaskan dalam kitab fathul qorib atau taqrib ialah Islam, baligh, berakal sehat dan kuat berpuasa. Dan puasa romadhon itu sah jika telah terlihat hilal, atau dengan hisab yaitu mengikuti penanggalan kalender hijiriyah, dengan berakhirnya bulan sya’ban maka datanglah bulan romadhon.
Sedangkan rukunnya puasa ialah :
1. Niat, bisa dalam bahasa arab atau bahasa indonesia, menggucapkannya tidak menjadi syarat, tapi lebih baik dilakukan (mandub). Jikalau kita melakukan sahur, dan menahan dari dari membatalkan puasa itu belum dianggap niat, sehingga perlu adanya niat yang tergores dalam hati, atau dilafalkan dengan lisan.
Sedangkan lafadz niat dalam bahasa arab
نو يت صو م غد عن ا داء فر ض شهر ر مضا ن هذ ه ا لسنة لله تعا لى
Cara membacanya : nawaitu shouma ghodin ‘an ada i fardhi syahri romadhoni hadzihi tsanati lillahi ta’ala.
Artinya : “Aku berniat untuk berpuasa satu hari besok, untuk memenuhi kewajiban bulan romadhon tahun ini, dengan niat semata hanya karena Allah Ta’ala.”
2. Menahan Diri dari segala hal yang membatalkan puasa dari shubuh sampai maghrib. Sedangkan hal yang membatalkan puasa ialah : bersetubuh (jima’). Istimna’ (melakukan onani, baik dengan tangannya sendiri atau dengan tangannnya istrinya), Istiqo’ah (sengaja Muntah). Keluar darah haidh dan nifas, gila, murtad (keluar dari agama Islam), masuknya sesuatu ke dalam tubuh manusia, baik itu melalui mulut, hidung, kuping, qubul, atau dubur secara menyegaja.
Keringanan berpuasa itu diberikan kepada orang yang sakit atau musafir (orang yang sedang dalam perjalanan jauh), dan dia wajib menggantinya sebanyak hari yang ia tinggalkan. Sedangkan bagi orang yang sudah tidak kuat berpuasa dan ia tidak senggup pula menggantinya maka wajib bagi orang tersebut membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.
CATATAN :
• Mengenai Niat hendaknya dilakukan setiap hari ketika malam romadhon , misalnya saya besok rabu puasa, maka malam rabu atau selasa malam saya sudah berniat bahwa saya besok puasa. Begitu seterusnya hingga menjelang hari terakhir kita puasa. Menurut Imam Malik : lebih baik pada malam pertama bulan romadhon berniat puasa seluruh bulan romadhon, agar pada hari di mana ia lupa niat di dalamnya, tetaplah berhasil puasanya.

WALLAHU A’LAMU BI ASH-SHOWAB

Sabtu, 07 Agustus 2010

AUTO CAD : 3 DIMENSI

Sekarang ialah pelajaran membuat gambar 3 dimensi dengan menggunakan ukuran gambar sebagai berikut:

Atau bila anda sahabat para pencari ilmu dengan mengetik vpoint , kemudian input 1,1,1 maka hasil gambar akan menjadi seperti ini, dengan tampilan atas, Belakang, kanan:

Sekarang mari kita berikan ketinggian pada gambar ini dengan ketinggian sekitar 20 mm, maka kita inputkan extrude, kemudian masukkan nilainya 20, sedangkan langkah commandnya sebagai berikut:


Kemudian klik pada kedua gambar :


Setelah gambar diklik semua, kemudian enter, selanjutnya spesifikasikan berapa besar ketinggiannya, missal 20, setelah itu enter. Maka kedua gambar akan seperti ini :

Untuk command dalam pembuatan gambar 3 dimensi ini, ialah sebagai berikut


Command: extrude
Current wire frame density: ISOLINES=4
Select objects: 1 found
Select objects: 1 found, 2 total
Select objects:
Specify height of extrusion or [Path]: 20
Specify angle of taper for extrusion <0>:
Automatic save to C:\Documents and Settings\rifqi ilzami khoiri\Local
Settings\Temp\Drawing1_1_1_0609.sv$ ...
Sekarang ada soal buat para pencari ilmu nnih, yaitu membuat suatu gambar dengan ukuran sebagai bereikut, kemudian nanti berikan tingginya, missal tingginya 30, selamat mencoba, semoga sukses,
WALLAHU A’LAM BI Ash-SHOWAB


auto cad : caramembuat tulisan

Cara membuat tulisan di auto cad juga cukup mudah missal dengan menginput kkan TEXT, kemudian klik di layar tersebut, dan atur berapa sudutnya, sudah bisa dijalankan , naun bisa lebih mudah kalau lewat draw, kemudian pilih text, setelah itu multiline text.

Kemudian klik di area kerja. 2 kali. Mengenai besar hurf dan lokasi huruf bisa Diatur sesuai anda.

Setelah dirasa cocok, kemudian klik yang tanda ok, maka selesai ssudah pembuatan textnya. Semoga berrmanfaat, amiin.

Alat yang digunakan bersuci

Alat yang digunakan bersuci bisa berupa air atau tanah yang baik. Sedangkan air yang bisa digunakan bersuci ialah air yang suci dan mensucikan atau bisa juga disebut air mutlaq (air yang belum mengalami perubahan rasanya air warnanya air dan baunya air, atau masih murni)
Sedangkan volume air yang bisa digunakan bersuci (wudhu, mandi jinabat) ialah minimal 2 kullah, 2 kullah itu jika dijadikan satuan liter menjadi 216 liter, atau jika bak mandi berbentuk kubus ukurannya ialah 60x60x60 cm.
Air itu dibagi menjadi lima macam, yaitu:
1. Air suci dan mensucikan, atau bisa juga disbut air mutlak, seperti yang dituliskan di awal, air ini bisa digunakan untuk bersuci, berwudhu, mandi dan mencuci.
2. Air suci tetapi tidak dapat mensucikan, air jenis ini secara dzat memang suci tetapi ia tidak digunakan bersuci, tidak dapat digunakan untuk berwudhu, mandi, dan mencuci. Namun air ini bisa dikonsumsi, contoh air ini ialah teh, kopi, susu, air kelapa, juga air minum kalengan dan galonan termasuk air suci tetapi tidak mensucikan. Hal ini karena air tersebut telah mengalami perubahan warna, bau, juga rasa.
3. Air Makruh. Yaitu air yang disebut juga air Musyammas,yaitu air yang terkena sinar matahari sehingga ari tersebut menjadi panas, ait jenis ini makruh hukumnya digunakan untuk berwudhu dan mandi.
4. Air musta’mal, yaitu air yang volumenya kurang dari 2 kullah. Air ini tidak bisa digunakan untuk bersuci walaupun air ini suci. Namun air musta’mal ini bisa digunakan bersuci apabila ia dialirkan, misalnya air tersebur dtaruh dalam suatu timba yang suci, kemudian\bawah timba tersebut dilubangi, sehingga air tersebut bisa mengalir, dapat digunakan bersuci baik itu buat berwudhu atau mencuci.
5. Air mutanajis, yaitu air yang jumlahnya kurang dari 2 kullah dan air tersebut terkena najis. Air mutanajis ini tentu tidak bisa digunakan untuk bersuci. Air yang sedikit ini, tidak menjadi najis apabila ia kemasukan bangkai binatang yang tak berdarah bila dipotong tubuhnya, seperti kalajengking dan cecak, namun jikalau hewan tersbut masuk ke air membawa najis, maka air tersebut menjadi najis.

Nah itu alat bersuci nya air yang digunakan, jikalau tidak ada air yang bisa digunakan bersuci, maka ajaran islam membolehkan bersuci dengan alat suci yang lainnya, sebagaimana Kau ketahui kawan, islam itu ialah agama yang sempurna, tak ada ajaran dalam agama lain untuk menganjurkan pemeluknya bersih dan suci seperti dalam ajaran Islam. Dan ajaran bersuci dengan menggunakan tanah yang yang baik pun hanya ada dalam islam,, shubhanallah.
Alat yang digunakan bersuci selain air ialah tanah yang baik, sebagaimana tertulis dalam suatu surat di Al-Qur’an, Surat An-Nisa’ ayat 43,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, sedang kamu dalam keadaan junub , terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik ; sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun.”

manajemen proyek : hukum fiqhnya gemana

Kawan ilmu sekarang yang kita pelajari kebanyakan telah terkena paham sekulker, yang memisahkan diin dengan segala aspek pengetahuan, maka karena itu kita wajib mencari hukum2 fiqh yang berkaitan dengan apa yang kita pelajari dan bagaimana islam memandangnya, salah satunya terkait manajemen proyek, dan alhamdulilklah ilmu2 yang berkaitan dengan ipa dan tteknik rata2 aman dari virus sekuler tersebut, karena dalam pjaran sepeerti itu tidak terdapat mafahim dari suatu konsep pandangan hidup yang bertentangan dengan diin ini, selain itu kebanyakan ilmu2 teknik ialah madaniyah yang bersifat amm sehhingga semua orang bias mengambilnya,,
Pengertian Proyek ialah suatu kegiatan yang dilakukan ketika ada suatu kebutuhan yang kebutuhan itu tidak terus-menerus, serta memiliki batas waktu serta anggaran tertentu. Nah kebutuhan itu bermacam-macam, kebutuhan untuk membangun suatu insfratruktur. Kebutuhan untuk memenuhi permintaan pasar, kebutuhan untuk melakukan penelitian dan pengembangan.
Ciri-ciri proyek itu antara lain : tidak berulang-ulang, ada batasan waktu biaya serta mutu. Dan menghasilkan suatu produk jenis tertentu.
Nah proyek bisa berjalan apabila telah terjadi kesepakatan antara orang yang ingin memenuhi kebutuhan dengan konttraktor (orangan yang mengerjakan proyek). Pada saat terjadinya deal itulah disepakati berapa besar biaya yang harus dikeluarkan, kapan waktu nya selesai proyek, serta apa produk yang dihassilkan harus sesuai dengan tujuan orang yang punya hajat tadi.
Menurut saya, setelah saya membaca-baca dan menelaah kitab fathul Mu’in, saya bisa menyimpulkan hukum bagi perjanjian antara orang yang punya hajat dengan kontraktor adalah boleh/mubah, karena ini termasuk dalam bab IJAROH (Sewa-menyewa ,perburuhan). Asalkan kontraktor itu mahir dan bisa berhasil apa yang menjadi tujuan proyek. Sebagaimana tertulis dalam kitab fathul mu’in tentang tabib yang mengobat pasiennnya.
“Guru kita berkata: sesungguhnya seorang dokter yang mahir, yang itu jarang mengalami kegagalan pengobatannya. Apabila dijanjikan upah tertentu dan diberi biaya obat-obatannya kemudian ia melakukan pengobatan dengan obat itu dan ternyata pasiennya tidak bisa sembuh. Maka ia tetap berhak mendapat janjinya jika aqod ijaroh (perburuhan) syah: Kalau tidak, maka berhak upah sepatutnya.
Bagi pasien tidak berhak menarik kembali apa yang telah diberikan, karena yang diupahkan adalah pengobatan bukan sembuh penyakitnya; Bahkan jika disyaratkan harus sembuh, maka aqod ijaroh menjadi batal, sebab hal itu(kesembuhan) hanya berada di tangan ALLAH bukan hal yang lain.
Adapun bila dokter/tabib itu tidak mahir, maka dalam kasus sepeti diatas ia tidak berhak menerima upah dan pasien boleh minta ganti kembali uang obat-obatannya, karena kegegabahan sang Dokter/Tabib melakukan sesuatu yang bukan keahliannya”
.
Memang tidak ditemukan secara teks hukum tentang perjanjian proyek dalam kitab fathul Mu’in, namun dari apa yang dituliskan dalam kitab itu kita bisa melakukan ijtihad untuk suatu permasalahan yang terjadi pada masa kini, sedang di masa lampau belum ada permasalahan tersebut.
Menge\nai bagaimana menemukan waktu tercepat dalam suatu proyek, kemudian tahap2 proyek, juga menentukan biaya paling optimal adalah mubah, karena itu adalah madaniyah yang bersifat amm, mengenai apa itu hadhoroh?? Apa itu madaniyah?? Akan dibahas dalam ulasan selanjutnya, sedangkan untuk menemukan liontasan proyelk yang optimal dsb juga akan dituliskan di group ini atau di situs www.tholabulilmiblog.blogspot.com

marhaban ya romadhon

[Al Islam 518] Ramadhan memang belum tiba. Namun, kita tinggal menghitung hari menyambut kedatangan bulan suci di tahun 1431 H ini.

Ramadhan adalah bulan agung. Kedatangannya perlu disambut dengan penuh kegembiraan dan penghormatan yang agung pula. Apalagi kedatangan Ramadhan cuma setahun sekali. Keagungan Ramadhan diisyaratkan oleh sejumlah nash al-Quran maupun as-Sunnah, baik secara langsung maupun tak langsung; di antaranya saat Allah SWT menegaskan bahwa pada bulan Ramadhanlah al-Quran Mulia diturunkan (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 185). Karena itu, kaum Muslim menyebut Ramadhan sebagai ‘bulan al-Quran’ (syahr al-Qur’an); selain karena di bulan inilah kaum Muslim lebih banyak lagi membaca al-Quran dibandingkan dengan di bulan-bulan lain.

Selain itu, di bulan Ramadhan pula terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yakni Lailatul Qadar (QS al-Qadar [97]: 1), yang banyak dirindukan oleh kaum Muslim. Karena itu, kaum Muslim pun menyebut Ramadhan sebagai ‘bulan keberkahan’ (syahr[un] mubarak); selain karena di bulan ini pula Allah SWT melimpahkan pahala yang berlipat ganda hingga ratusan kali lipat untuk setiap amal salih dibandingkan dengan di bulan-bulan lain. Rasulullah saw. pun bersabda:

قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانَ شَهْرٌ مَبَارَكٌ اِفْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيْهَ أَبْوَابُ الجَنَّةِ وَ تُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الجَحِيْمِ وَ تُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرُ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan keberkahan. Allah telah mewajibkan kalian shaum di dalamnya. Di bulan itu pintu-pintu surga di buka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Di bulan itu pula terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan (HR an-Nasa’i dan al-Baihaqi).

Karena itu, layaknya kedatangan ‘tamu agung’, seorang Muslim yang cerdas tentu akan melakukan persiapan yang optimal-dengan mempersiapkan bekal iman, ilmu maupun amal shalih-dalam menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan ini. Tentu amat mengherankan jika kedatangan sesuatu yang agung hanya disambut dengan persiapan yang alakadarnya, dengan sambutan yang juga biasa-biasa saja, tanpa ekspresi kegembiraan sama sekali.

Dengan persiapan iman, ilmu dan amal shalih, saat Ramadhan tiba setiap Muslim tentu akan siap untuk mengisi hari-hari Ramadhan dengan ragam amal shalih: shaum, qiyamul lail, tadarus al-Quran, bersedekah, mendatangi kajian-kajian keilmuan, meningkatkan aktivitas dakwah dan melakukan banyak amal shalih lainnya. Semua itu dilakukan tentu dalam rangka semakin mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT.

Hakikat Taqarrub illa Allah

Di dalam sebuah hadis qudsi, Baginda Rasulullah saw. pernah bersabda, bahwa Allah SWT telah berfirman:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَ لاَ يَزاَلُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

Tidaklah hamba-Ku ber-taqarrub kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku sukai daripada menunaikan kewajiban yang telah Aku perintahkan kepadanya. Hamba-Ku selalu ber-taqarrub kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya (HR al-Bukhari).

Berdasarkan hadis qudsi ini, hal yang paling utama yang bisa mendatangkan cinta Allah SWT bagi seorang Muslim adalah melakukan semua kewajiban, termasuk di dalamnya meninggalkan semua keharaman; kemudian dibarengi dengan bersungguh-sungguh mengerjakan banyak amalan sunnah serta meninggalkan hal-hal yang makruh dan subhat (Ibn Rajab al-Hanbali, I/25).

Menurut Abdur Ra’uf al-Minawi, yang dimaksud kewajiban dalam hadis di atas mencakup fardhu ‘ain maupun fardhu kifayah (Abdur Ra’uf al-Minawi, I/515).

Di antara kewajiban terpenting sekaligus terbesar atas kaum Muslim adalah menegakkan hukum-hukum Allah SWT (syariah Islam) dalam seluruh aspek kehidupan; baik dalam tataran individual, sosial maupun negara. Alasannya jelas, sebagaimana menurut al-Minawi di atas, kewajiban dalam Islam ada dua. Pertama: fardhu ‘ain (kewajiban individual) seperti shalat, shaum, haji, menuntut ilmu, melakukan amar makruf nahi mungkar, dll. Kedua: fardhu kifayah (kewajiban kolektif), seperti membentuk jamaah yang beraktivitas mendakwahkan Islam dan melakukan amar makruf nahi mungkar serta mendirikan Khilafah (membaiat seorang khalifah) yang akan menegakkan syariah Islam secara formal dalam negara serta untuk menyebarluaskan Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.

Namun sayang, bukan hanya di bulan Ramadhan, di bulan-bulan lain pun, kebanyakan kaum Muslim hanya ber-taqarrub dengan menunaikan kewajiban-kewajiban individualnya saja plus beberapa perkara sunnah. Adapun fardhu kifayahnya mereka tinggalkan. Buktinya, saat ini jauh lebih banyak kaum Muslim yang tak peduli terhadap tidak diterapkannya syariah Islam dalam sebagian besar aspek kehidupan mereka dibandingkan dengan mereka yang peduli dan mau berjuang untuk menegakkannya. Padahal, hanya dengan melaksanakan semua kewajiban (baik fardhu ‘ain maupun fardu kifayah)-tentu dengan meninggalkan semua keharaman-itulah setiap Muslim benar-benar bisa dikatakan sebagai orang bertakwa, sebagai ‘buah’ dari puasa yang dia lakukan selama bulan Ramadhan.

Hakikat Takwa

Ibadah puasa di bulan Ramadhan ini, sebagai salah satu bentuk aktivitas taqarrub kepada Allah SWT, pada akhirnya memang diharapkan dapat mewujudkan ketakwaaan pada diri setiap Muslim:

يٰأَيُّهَا الَّذينَ ءامَنوا كُتِبَ عَلَيكُمُ الصِّيامُ كَما كُتِبَ عَلَى الَّذينَ مِن قَبلِكُم لَعَلَّكُم تَتَّقونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa (QS al-Baqarah [2]: 183).

Menurut al-Jazairi, frasa “agar kalian bertakwa” bermakna: agar dengan shaum itu Allah SWT mempersiapkan kalian untuk bisa menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya (Al-Jazairi, I/80).

Saatnya Mengubur Sekularisme

Jika ‘buah’ dari puasa adalah takwa, tentu idealnya kaum Muslim menjadi orang-orang yang taat kepada Allah SWT tidak hanya di bulan Ramadhan saja; juga tidak hanya dalam tataran ritual dan individual semata. Ketakwaan kaum Muslim sejatinya terlihat juga di luar bulan Ramadhan sepanjang tahun, juga dalam seluruh tataran kehidupan mereka.

Sayang, faktanya yang terjadi malah sebaliknya. Pertama: Setelah Ramadhan, kaum Muslim-yang sebelumnya berusaha ber-taqarrub kepada Allah SWT untuk meraih takwa dengan puasa dan seluruh amal shalih yang mereka lakukan-justru kembali jauh dari Allah SWT dan kembali melakukan ragam kemaksiatan kepada-Nya. Banyak wanita Muslimah yang kembali memamerkan auratnya, padahal saat Ramadhan mereka menutupnya rapat-rapat. Banyak masjid kembali sepi, padahal saat Ramadhan ramai dikunjungi. Acara-acara di televisi kembali menampilkan acara-acara berbau pornografi/pornoaksi, padahal selama Ramadhan mereka menyiarkan acara-acara religi. Banyak tempat-tempat maksiat dibuka kembali, padahal selama Ramadhan ditutup. Penguasa dan banyak pejabat kembali melakukan korupsi dan mengkhianati rakyat, padahal selama Ramadhan mungkin mereka berusaha berhenti dari perbuatan-perbuatan tercela tersebut. Bagi orang-orang semacam ini, tentu puasa tak ada artinya. Inilah yang diisyarakat Baginda Nabi saw.:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

Betapa banyak orang berpuasa tidak mendapatkan apapun selain rasa laparnya saja (HR Ahmad).

Kedua: Setelah Ramadhan, sekularisme (pengabaian agama [syariah Islam] dari kehidupan) tetap mendominasi kehidupan kaum Muslim. Setelah Ramadhan, tak ada dorongan dari kebanyakan kaum Muslim, khususnya para penguasanya, untuk bersegera menegakkan hukum-hukum Allah SWT secara formal dalam segala aspek kehidupan melalui institusi negara. Bahkan di antara mereka ada yang tetap dalam keyakinannya, bahwa hukum-hukum Islam tidak perlu dilembagakan dalam negara, yang penting subtansinya. Anehnya, pemahaman seperti ini juga menjadi keyakinan sebagian tokoh-tokoh agama Islam. Keyakinan semacam ini hanya menunjukkan satu hal: mereka seolah ridha dengan hukum-hukum sekular yang ada (yang nyata-nyata kufur) dan seperti keberatan jika hukum-hukum Islam diterapkan secara total oleh negara dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Padahal Abu Abdillah Jabir bin Abdillah al-Anshari ra. telah menuturkan riwayat sebagai berikut:

أنَّ رجلاً سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: “أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ الْمَكْتُوْبَاتِ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ، وَأَحْلَلْتُ الْحَلاَلَ، وَحَرَّمْتُ الْحَرَامَ، ولَم أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شيئاً، أَدْخَلُ الجَنَّةَ؟ قَالَ: نَعَمْ”

Seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah saw., “Bagaimana pendapat engkau jika saya telah menunaikan shalat-shalat wajib, melakukan shaum Ramadhan, menghalalkan yang halal dan meninggalkan yang haram, sementara saya tidak menambah selain itu; apakah saya masuk surga?” Rasul saw. menjawab, “Benar.” (HR Muslim).

Berdasarkan hadis ini, meninggalkan keharaman adalah syarat untuk bisa masuk surga. Di antara keharaman yang wajib ditinggalkan tentu saja adalah berhukum dengan hukum-hukum kufur. Apalagi Allah SWT tegas menyatakan bahwa siapapun yang berhukum dengan selain hukum Allah SWT bisa bertatus kafir, zalim atau fasik (Lihat: QS al-Maidah [5]: 44, 45, 47).

Karena itu, agar kita tidak termasuk golongan orang-orang kafir, zalim atau fasik maka tentu kita harus segera menegakkan semua hukum-hukum Allah SWT melalui institusi negara. Sebab, hanya melalui institusi negaralah hukum-hukum Islam dalam seluruh aspek kehidupan manusia-dalam bidang ekonomi, politik, pemerintahan, pendidikan, peradilan, keamanan, dll-dapat benar-benar ditegakkan.

Karena itu pula, hendaknya seluruh kaum Muslim, khususnya di negeri ini, menjadikan Ramadhan kali ini sebagai momentum untuk segera mengubur sekularisme, kemudian menggantinya dengan menerapkan syariah Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan melalui institusi negara, yakni Khilafah ar-Rasyidah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah. Itulah wujud ketakwaan sejati. Itulah pula yang menunjukkan bahwa kita benar-benar sukses menjalani puasa sepanjang bulan Ramadhan. Wallahu a’lam bi ash-shawab. []

Komentar alislam:

DPR kini menganggarkan pembangunan rumah aspirasi per daerah pemilihan sebesar Rp 112 miliar pertahun (Okezone.com, 3/8/2010).
Itulah demokrasi! Wakil rakyat sering hanya memikirkan diri sendiri, sementara rakyat mereka abaikan

Rabu, 04 Agustus 2010

AUTO CAD :MEMBERI UKURAN

Materi selanjutnya ialah bagaimana caranya adalah membuat gambar dengan ukuran yang pasti sekaligus memberikan ukuran pada gambar tersebut.

Yang pertama kita akan membuat rectangle (persegi panjang) dengan ukuran panjang 45 mm dan lebar 30 mm, oke caranya bisa dengan mengikuti command berikut :
Command: rectangle
Specify first corner point or [Chamfer/Elevation/Fillet/Thickness/Width]:
Specify other corner point or [Area/Dimensions/Rotation]: @30,45

Pada saat muncul tulisan specify first corner point or,,, anda langsung klik di layar kerjanya autocad, kemudian masukkan angkanya sesuai yang dinginkan, kemudian enter.
Bisa juga dengan memilih toolbar draw kemudian pilih rectangle, setelah itu klik di layar kerja, selanjutnya inputkan satuan yang dinginkan, dan ENTER.
Untuk memberi gambar ukuran kerja, bisa dengan langkah berurutan seperti berikut:
Klik dimension>linear>klik pada setiap sisi bidang kerja.
Atau kalau bidang berbentuk miring bisa dengan langkah berikut,
Klik dimension>aligned>klik pada setiap sisi bidang kerja.









Dalam membuat polygon bisa dengan 2 metode, yaitu : inscribed in circle atau dengan circumscribed about circle.
Caranya pun hampir sama dengan membbuat rectangle, kurang lebih command history nya seperti berikut,

Command: polygon
Enter number of sides <4>: 6
Specify center of polygon or [Edge]:
Enter an option [Inscribed in circle/Circumscribed about circle] : I
Specify radius of circle: 30

Sedangkan untuk membuat yang circumscribed seperti ini kawan para pencari ikmu,,

Command: polygon
Enter number of sides <6>:

Specify center of polygon or [Edge]:
Enter an option [Inscribed in circle/Circumscribed about circle] : C

Specify radius of circle: 30


Supaya mudah membedakan mana yang pake circumscribed dan mana yang pake inscribed, bisa dilihat di bawah ini, dimana yang ini ialah yang memakai circumscribed,



Sedangkan yang memakai inscribed ada di bawah ini:




















Dengan desain seperti ini kawan pasti bisa membedakan mana yang pakai circumscribed dan mana yang pakai inscribed, sedangkan yang lingakaran coba sendiri ya,, kalau gak tahu nanya, semoga dengan apa yang saya tulis ini bisa bermanfaat, dan menjadi amal jariyah saya, amiin allahumma amiin,

WALLAHU A’LAM BI ASH-SHOWAB