Kamis, 09 September 2010

Perbedaan pacaran dengan Ta'aruf

Pernahkah kalian mengetahui pernyataan seperti ini : “Pacaran itu gak pa-pa, yang penting nanti bisa jadi keluarga sakinah, mawaddah warohmah,,,,” atau pernyataan seperti ini :
‘Pacaran itu sebagai usaha untuk menjemput jodoh kita, sebab menikah itu butuh ikhtiar (usaha), makanya pacaran” yang lebih brengsek lagi seperti ini kawan “bukankah yang pacaran itu yang ngelakuin saya?? Tubuh-tubuh saya sendiri, kalo habisin biaya juga biaya saya sendiri, jadi gak perlu orang lain apalagi Negara ikut campur masalah pribadi saya,,”.
Euuuuyyyyy kalo kau mau berfikir kawan, sesuatu yang bisa berhasil menjadi baik (sakinah) pasti mengalami proses yang baik pula, dan bahan untuk proses tersebut pasti juga baik pula, ibaratnya ketika orang mau buat Roti yang baik, enak serta bergizi, tentunya bahan yang dipake’ yang bagus donk, baik itu telurnya, tepungnya, dan takarannya harus sesuai, begitu juga prosesnya juga sesuai dengan prosedur yang ada, sehingga roti yang dihasilkan bisa maknyus lezat dan nikmat. Kesimpulannya Roti yang enak itu berasal dari bahan yang bagus juga proses yang benar.
Begitu juga dengan proses membuat kelurga yang sakinah, yang sesuai tuntunan agama islam, maka dibutuhkan orang-orang yang pola fikir dan pola hidupnya sesuai dengan tuntunan agama Islam, misalnya ketika dalam diinnya ada perintah da’wah maka ia berda’wah, ketika seorang wanita mempunyai kewajiban untuk berjilbab, maka ia pun berjjilbab. Dan ketika nabinya, saudaranya seagama, kitab sucinya dilecehkan, maka ia pun bangkit membelanya, gampangannya mereka itu berusaha semaksimal mungkin hidup sesuai al-qur’an dan al-hadits.
Mengenai prosesnya, jelas ada sesi yang namanya Ta’arruf, ta’arruf itu jelas kawan, yaitu tujuannya menikah, dengan menjelaskan latarbelakangmu, penghasilanmu, cita2mu, pemahaman agamamu dsb,begitu juga dengan calon pasangannya, kalo memang dah bener cocok baru berlanjut ke sesi selanjutnya yaitu, lamaran, dst hikmah dibalik ta’aruf itu banyak sekali kawan, salah satunya ialah tujuan yang mulia bisa diraih dengan cara yang cepat, biaya yang kecil dan sampai dengan selamat, serta tidak ada pihak yang merasa dirugikan. sementara pacaran itu mah gak jelas, banyak cincong, dan tujuannya tiada lain hanyalah untuk bersenang-senang, dan tidak ada hujjahnya, ikatan pacaran membuat kalian menjadi satu muhrim, sehingga halal berpegangan tangan, berpelukan berciuman dst.
Bagi kami, cowok bejat, macarin kalian hanya untuk ngisi waktu luang ja, itung2 dapat bonus akhir tahun! Kami mengikat kalian dengan benang busuk, sehingga timbul keraguan dan kalian menjadi salah pilih! Yang datang ngajak nikah malah kalian tolak, padahal kalian tau pemahaman agamanya baik, kelakuannya juga syar’I, jelas lebih bisa dipercaya daripada kami cowok bejat, namun bodohnya kalian yang memilih kepengecutan kami, ahh aku gak peduli masalah itu, yang penting kita saling mencintai kan?? kasihan juga tuch,, badan bagus dianggurin, mending kita pakai, dijamin deh puas,, tapi sisa penyesalan dan aib tanggung sendiri, itu sich masalahmu dan keluargamu, salah sendiri mau, jikalau protes, tinggal bilang ja Cinta Sejati Kan Tidak Harus Saling Memiliki<<<<
Sementara itu bagi yang berpendapat tak usahlah ikut campur masalah orang lain, apalagi Negara sampai ikut campur masalah privat penduduknya, menunjukkan kedangkalan pemikirannya, karena tidak semua masalah pribadi (privat) bisa seenak udelnya atau semaunya sendiri. Misalnya : kenapakah Negara ikut campur masalah NARKOBA??? Bukankah yang mengkonsumsi saya, mulut saya, perut saya, juga pake’ uang hasil jerih payah sendiri, itu karena mengkonsumsi narkoba merupakan tindakan berbahaya, dan kegiatan tersebut bisa menular ke orang lain, oleh karena itu bukti Negara melindungi warganya, ialah dengan mencegah penggunaan narkoba tersebut, dan memberi hukuman/tindak pidana terhadap warganya yang terbukti mengkonsumsi serta mengedarkan narkoba tersebut.
Begitu juga dengan aktifitas pacaran, seharusnya Negara juga ikut campur dengan mengeluarkan larangan berpacaran bagi pemuda-pemudi muslim karena itu tidak sesuai dengan al-qur’an dan al-hadits, aktifitas berpacaran juga membahayakan lingkungan, Karena aktifitas seperti ini merupakan suatu tindakan yan gak islami, dan menyebabkan orang lain ingin melakukan hal yang serupa, coba fikirkan, betapa enaknya bisa bercumbu rayu dengan wanita yang bukan muhrimya,??? tanpa harus ngeluarin mahar, tanpa ada kewajiban menafkahinya???.
Solusi untuk masalah tersebut tiada lain adalah beruasaha menerapkan peraturan yang islami yang bersumber dari alqur’an dan al-hadits, dalam naungan pemerintah yang islami, karena hanya dengan langkah seperti itu, masalah selesai sampai tuntas.
Sungguh kawan, hidup ini adalah pilihan, dan telah jelas pula jalan yang yang batil dan jalan yang fasad, dan setiap pilihan, mau tidak mau, suka tidak suka, akan kita pertanggungjawabkan kelak di hadapan pencipta kalian, saya serta semua yang ada dalam alam semesta in
Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, Lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan[1578], (Q.s. AL_BALAD, ayat 8-10)

[1578]
Yang dimaksud dengan dua jalan ialah jalan kebajikan dan jalan kejahatan.

WALLAHU A’LAM BISH-SHOWAB

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar