Minggu, 25 Juli 2010

PENDIDIKAN PENENTU MASA DEPAN

Pendidikan adalah salah satu bagian terpenting dalam kehidupan. Karena pendidikan akan sangat berpengaruh pada proses pembentukan kepribadian seseorang. Dan kepribadian akan menentukan sikap seseorang dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Oleh karena itu, perhatian terhadap dunia pendidikan harus diberikan secara optimal oleh semua unsur pendidikan, yaitu pemerintah, sekolah, massyarakat dan keluarga. Namun sayang potret buram melingkupi pendidikan di negeri ini. Setumpuk masalah di bidang pendidikan ada di hadapan kita. Mulai dari mahalnya biaya pendidikan, rendahnya output pendidikan, kesejahteraan pendidikan yang terbaikan hingga kurangnya fasilitas yang memadai untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Plus, tantangan dari budaya penjajah berupa faham Sekuler, Materialistik, konsumtif yang dibungkus rapi dan menarik dalam asas demokrasi, dan asas tersebut telah “berhasil” melahirkan peserta didik yang terbiasa pacaran, cium2 an bahkan free sex, tawuran, dll,terus apakah kepada generasi seperti itukah kepemimpinan umat diberikan??
Bagi yang sudah alumni dan jadi pemimpin malah lebih hebat prestasinya, buat kebijakan yang menguntungkan mereka tapi gak buat rakyat, seperti menaikkan taraf biaya listrik, menurunkan subsidi BBM, rakyat di pajak sana-sini, beli permen dipajak, naik angkot dipajak, mau mandi dipajak, untung aja bernafas gak dipajak, kemudian uang pajaknya dikorupsi secara rame2 serta terorganisir, biar sulit bersihkannya dan juga bagi kelangsungan hidup organisasi bejat.
Sementara itu, system pendidikan yang materialistik/sekuler terbukti telah gagal melahirkan manusia shaleh yang sekaligus menguasai IPTEK. Fakta berbicara, sedikit sekali ilmuwan muslim di saat yang sama ia menguasai serta mengamalkan tsaqofah islam (bahasa Arab, ilmu tafsir, ushul fiqh, tarikh) sekaligus menguasai IPTEK dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketaqwaan dengan terikat sepenuhnya pada hokum Alloh. Hal ini terjadi karena yang tergambar dalam benak sebagian manusia adalah meraih materi sebanyak-banyaknya dan kesenangan dunia tanpa memperdulikan syariah islam.

PEMDIDIKAN DALAM PANDANGAN ISLAM

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Adz-Dzariyat [51] ayat 56 : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” Ayat ini merupakan pedoman umum bagi seorang muslim dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Dari ayat tersebut manusia mempunyai kewajiban untuk mengabdi kepada Allah SWT, dengan melaksanakan semua perintah-NYA dan menjauhi semua larangan-NYA, termassuk pula dalam masalah pendidikan. Dan dengan ilmu, manusia akan mengetahui perintah dan larangan Allah.
Pendidikan adalah salah satu perwujudan seorang muslim untuk memenuhi seruan Allah tetang wajibnya menuntut ilmu. Dalam Al-Qur’an Allah memuji hambanya yang berilmu. Seperti halnya firman Allah dalam surat Mujaadilah [58] ayat 11 :…. Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Dan banyak pula hadits Rosulullah Muhammad SAW yang menunjukkan tentang wajibnya seorang muslim menuntut ilmu, tanpa membedakan tempat, umur maupun jenis kelamin. Oleh karena itu, pendidikan sebagai salah satu upaya seorang muslim untuk menuntut ilmu haruss dijalankan sesuai dengan koridor aturan Islam.

A. Asas Pendidikan Islam
Asas pendidikan Islam adalah aqidah Islam. Asas ini berpengaruh dalam penyusun kurikulum pendidikan, sistem belajar mengajar, kualfikasi guru, budaya yang dikembangkan dan interaksi di antara semua komponen penyelenggara pendidikan. Namun, penetapan aqidah Islam sebagai asas pendidikan tidaklah berarti bahwa semua ilmu harus bersumber dari aqidah islam. Karena Islam tidak memerintahkan demikian. Dan kenyataannya tidak semua ilmu lahir dari aqidah Islam.
Aqidah Islam sebagai asas pendidikan, hal ini bermakna bahwa aqidah islamlah yang menjadi standar penilaian pemikiran dan perbuatan. Sebagai contoh, teori “seleksi alam” yang diungkapkan oleh Darwin telah mempengaruhi cara berfikir seseorang dengan pendapat, yang kuat akan bertahan dan menang, maka yang lemah sebaliknya. Hal ini akan member pemahaman yang salah terhadap aktivitas manusia. Manusia seolah-olah harus berusaha mempertahankan diri dengan menjadi yang terkuat tanpa mempertimbangkan lagi halal-haram.
B. Tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan adalah suatu kondisi yang menjadi target dari proses –proses pendidikan termasuk penyampaian ilmu pengetahuan yang dilakukan . Tujuan pendidikan dalam Islam secara garis besar ada tiga, yaitu:
1. Membentuk Kepribadian Islam (Syakhsiyah Islamiyyah)
Tujuan yang pertama ini hakikatnya merupakan konsekuensi keimanan seorang muslim, yakni bahwa seorang muslim harus memegang identitas kemuslimannya yang tampak pada cara berpikirnya (aqliyyah) dan cara bersikapnya (nafsiyah) yang senantiasa dilandaskan pada ajaran Islam.
Pada prinsipnya, ada tiga langkah metode pembentukan dan pengembangan kepribadian Islam. Pertama, menanamkan aqidah Islam dengan metode yang menggugah akal, menggetarkan jiwa dan menyentuh perasaan. Kedua, mendorong untuk senantiasa menegakkan bangunan cara berfikir dan perilakunya di atas aqidah dan syari’ah islam yang telah menghunjam kuat dalam hatinya Ketiga, mengembangkan kepribadian dengan cara bersungguh-sungguh mengisi pemikiran dengan tsaqofah Islamiyah dan mengamalkannya dalam seluruh aspek kehidupannya dalam rangka melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT.
2. Menguasai Tsaqofah Islam
SEbagai seorang muslim, sewajarnya jika dia berkewajiban untuk menguasai tsaqofah islam. Hal ini dimaksudkan agar sebagai muslim dia mengetahuidengan sepenuhnya semua hal yang berkaitan dengan agamanya. Ilmu Fiqh, Siroh Nabawiyyah, bahasa Arab, Al-Qur’an, Al-Hadits adalah ilmu yang mutlak harus dimiliki seorang muslim sehingga kecintaannya terhadap Allah SWT, Rosulullah SAW, agamanya semakin membuat hidupnya bermakna
3. Menguasai Ilmu Kehidupan (Sains Teknologi dan Keahlian)
Menguasai ilmu kehidupan (IPTEK) diperlukan agar umat islam mampu mencapai kemajuan material sehingga dapat menjalankan misi sebagai kholifah Allah SWT dengan baik di muka bumi ini. Islam menetapkan penguasaan ilmu kehidupan sebagai Fardhu kifayyah.
Banyak sekali ayat Alqur’an yang mendorong manusia untuk senantiasa menngembangkan Ilmu pengetahuan dalam rangka meninggikan martabat manusia. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Anfal [8] ayat 60:”dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang-orang yang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pad jalan Allah niscaya akan dibalas denagn cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)".
Juga Firman Allah SWT tentang Nabi Daud as dalam surat al-Anbiya [21] ayat 80 : “Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah)”.

C. Pelaksana Pendidikan
Untuk meraih tujuan pendidikan, maka diperlukan pelaksana pendidikan yang meliputi, sekolah, keluarga, serta peran masyarakat.
Keberhasilan sekolah sebagai pelaksana pendidikan sangat ditentukan oleh kematangan kurikulum, kualitas tenaga pendidik, mata pelajaran yang diberikan, manajemen penyelenggaraan sekolah, alat bantu belajar (buku teks, papan tulis, laboratorium), teknologi perangkat lunak dan perangkat keras, biaya pendidikan, penelitian dan pengembangan pendidikan dan lain sebagainya. Apabila komponen tersebut tersedia dengan layak maka proses pendidikan di sekolah akan semakin terjamin. Keberhasilan sekolah sengat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah karena komponen-komponen tersebut akan berjalan dengan optimal jika pemerintah memebrikan perhatian optimal pada dunia pendidikan.
Berhasilnya pendidikan di sekolah juga didukung pendidikan dalam keluarga. Keluarga adalah tempat pendidikan pertama dan utama bagi anak, dan itu merupakan peletak pondasi kepribadian anak. Keluarga adalah wadah pembinaan keislaman bagi setiap anggota keluarga sekaligus membentengi anggota keluarga dari pengaruh negatif yang datang dari luar.
Selain itu, peran masyarakat dalam pendidikan juga dibutuhkan. Pendidikan di tengah masyarakat pada hakikatnya merupakan proses pendidikan sepanjang hayat, khususnya berkenaan dengan praktek kehidupan sehari-hari yang dipengaruhi oleh sumber belajar yang ada dalam masyarakat utamanya tetangga, teman pergaulan, lingkungan serta system nilai yang berjalan. Individu adalah anggota masyarakat. Ketaqwaan anggota masyarakat akan dipengaruhi oleh interaksinya dengan masyarakat. Untuk itu, dalam rangka mebentuk individu yang bertaqwa diperlukan peran serta masyarakat dan    pemerintah yang bertaqwa pula.
Oleh karena itu, untuk mencapai keberhasilan proses pendidikan tidak boleh mengabaikan peranan salah satu pelaksan pendidikan. Baik sekolah dan pemerintah, keluarga serta masyarakat
WALLAHU A’LAMU BI ASH-SHOWAB

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar